Rabu, 02 November 2011

Sastra Anak dan Hubungan Cerita Anak dengan Perkembangan Anak

A.      Pengertian Sastra Anak
Sastra adalah karya imajinatif manusia yang bermediakan bahasa dan mempunyai nilai estetika dominan (Warren & Wellek, 1956).[1]
Menurut Wahidin, sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipaham oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak yaitu berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak-anak yang berusia antara 6-13 tahun. Sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribaian anak, mengembangkan inajinasi dan kreativitas serta memberi pengetahuan ketrampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendenganrkan cerita ketika dibacakan atau dikeklamasikan dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya.[2]
Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditunjukkan untuk anak, bukan sastra tentang anak.[3]
Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak.[4]
Menurut Hunt, (dalam Witakania, 2008 ) sastra anank sebagai buku bacaan yang dibca oleh anak yang secara khusus cocok untuk dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompokan anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untk dibacakan anak – anak.[5]
Dari beberapa pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa sastra anak yaitu satra yang dibuat untuk anak, yang isinya berupa pesan yang baik untuk anak yang membaca atau yang mendengarkan sastra tersebut.

B.       Hubungan Cerita Anak dangan Perkembangan Anak
Ceiita anak mengandung tema yang mendidik alurnya lurus dan ridak berbelit-belit, menggunakan seting yang ada di sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasa di pahamitapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasa masih dalam jangkauan anak.
Dari segi perkembangan, sastra anak dapat menunjang:
1.      Perkembangan bahasa
Yaitu memberikan pemahaman kosa kata baru dan logika bahasa/ merangkai kata,
2.      Kognitif
Yaitu memberikan pengalaman dan perkembangan daya pikir anak-anak ke arah yang lebih baik,
3.      Personalitas
Yaitu mengenbangkan kepribadian anak dalam menyikapi kehidupan, dan
4.      Sosial
Yaitu menjadikan anak lebih peka alam memasuki lingkungan yang telah ada atau lingkungan yang baru sehingga anak mampu bersosialisasi dengan baik.


[1] Heru Kurniawan, Sastra Anak dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semotika, hingga Penulisan Kreatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hlm. 4.
[2] Alfian Rrohmansyah, Pengertian, Hakikat, dan Ciri Sastra Anak, blog.unnes.ac.id/cahsotoy/2009/12/11/halo-dunia/, 8 Oktober 2011.
[3]Edi Puryanto, Konsumsi Anak dalam Teks Sastra di Sekolah, (Makalah dalam Konferansi Internasional Kesusastran XIX HISKI, 2008)
[4] Henry Guntur Trigan, dasar-dasar Psikosastra, (Bandung: Angkasa, 1995), hlm. 5.
[5] Alfian Rrohmansyah, Pengertian, Hakikat, dan Ciri Sastra Anak, blog.unnes.ac.id/cahsotoy/2009/12/11/halo-dunia/, 8 Oktober 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar